Catatan Redaksi : Selamat Datang 10 Unit KRL dari Jepang
Setelah mundur dua hari dari rencana semula, pada sore hari ini jika tidak ada halangan, 10 unit kereta baru (tapi bekas) yang diimpor oleh PT KCJ dari Jepang akan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok. Kesepuluh kereta ini merupakan pengiriman pertama dari 50 unit pesanan kereta tahap satu PT KCJ.
Kita menyambut gembira datangnya armada baru untuk KRL Jabodetabek ini. Keberadaan mereka akan lebih memperkuat kinerja KRL Jabodetabek dalam melayani seluruh pelanggan setianya.
Kekurangan armada merupakam 'momok' yang menakutkan dan berkepanjangan melanda dunia per-KRL-an Jabodetabek. Minimnya jumlah armada yang 'laik jalan' menyebabkan PT KCJ tidak memiliki 'buffer stock' saat beberapa rangkaian KRL-nya mengalami gangguan teknis. Ujung-ujungnya yang dirugikan adalah para Penumpang KRL karena KRLnya mogok, dan bahkan ada yang dibatalkan perjalanannya.
Kita berharap Pihak PT KCJ dan PT KA 'menata ulang' sistem perawatan KRL yang saat ini mereka miliki, sehingga optimalisasi kondisi laik jalan KRL terus terjaga. Tingkat gangguan teknis menjadi berkurang.
Selain itu, dengan adanya armada baru yang akan terus didatangkan dari Jepang tersebut diharapkan juga akan membuat PT KCJ dan PT KA menjadi lebih menaruh perhatian terhadap program 'replacement' KRL Ekonomi yang sudah udzur dan sering mogok. Selama ini mayoritas KRL yang sering mogok di tengah jalan dan mengganggu perjalanan KRL di belakangnya adalah KRL Ekonomi, walaupun di hari-hari belakangan ini KRL jenis ekspres juga ada yang mengalami 'kejang otot' di tengah jalan.
KRL ekspres yang sudah 'berumur' sebaiknya dilungsurkan menjadi KRL ekonomi, atau KRL ekonomi AC, sehingga ada peremajaan armada KRL Ekonomi. Selama ini, armada baru KRL selalu identik dengan penggunaannya sebagai KRL ekspres. Alasannya klasik, karena KRL yang baru tersebut semuanya ber-AC.
Peremajaan armada KRL Ekonomi harus jadi prioritas kebijakan PT KCJ dan PT KA. Kalau pun nantinya ada keinginan untuk 'mereplace' semua armada KRL ekonomi non AC dengan KRL ekonomi AC, pelaksanaannya tidak bisa langsung sekaligus, tapi harus bertahap. Masih banyak Penumpang yang 'menggantungkan hidupnya' pada KRL Ekonomi non AC. Yang mereka butuhkan bukan AC, tapi KRL yang 'manusiawi', layak jalan, dan harga tiket terjangkau. Harga tiket KRL Ekonomi AC harus dihitung ulang (baca : diturunkan) kalau semua KRL Ekonomi non AC dihapus dan diganti dengan KRL EKonomi AC.
Selamat datang armada baru KRL Jabodetabek. Semoga kedatangan KRL jenis TM 7000 ini menjadi tonggak baru penyemangat keberadaan KRL Jabodetabek dan dijadikan momentum untuk memberikan layanan KRL yang lebih baik.
(nc/ photo : Rusdi)
|